jump to navigation

Senyum July 13, 2015

Posted by semesta in Burung bilang itu Cinta, Sharing w/ Us.
add a comment

As you know, ini adalah postingan blog saya pertama setelah married. Dan akhirnya istri saya tahu juga tulisan- tulisan saya di blog ini, dan berfikir, betapa gilanya suaminya di masa lalu. Istri saya pun ternyata sudah tahu blog saya diam- diam, setelah saya mengkhitbah nya, Februari lau.

Postingan tulisan kali ini adalah tulisan seorang teman, eh bukan, tapi beliau adalah sahabat saya, sebagai bentuk kado atas pernikahan kami. Dia memang smart, ngasih kado yang special, antimainstream dari kebanyakan yang lain. Dan tulisan ini tanpa saya memintanya. (Karena saya bukan peminta- minta). Ini murni tulisan dari dalam hati seorang sahabat tentang sahabatnya yang lain.

Tulisan yang diberinya judul “Senyum” (Nama panggilan-ku) . Tulisan yang dia sendiri tidak tahu kapan saya akan membacanya, dan pagi ini (13 July, 2015), saat orang- orang hiruk pikuk mudik menyambut Ied Fitri, saat itulah saya masih tetap masuk sebagai karyawan rendahan dengan kebiasaan membuka email setiap datang di kantor. Pagi ini ada notif email baru yang masuk di Inbox. Kubuka, Inilah tulisannya. Dan selamat membaca…

Senyum

Makna kata senyum di atas bukanlah sesungging senyuman, melainkan nama salah seorang kawan. Meski bukan nama asli pemberian orang tuanya, demikianlah saya dan beberapa kawan akrab memanggilnya. Mungkin karena yang bersangkutan kerap kali menebar senyum. Jadilah ia berjuluk demikian. Entah bagaimana dan dari mana julukan itu berasal bukan jadi hal utama di tulisan saya ini. Topik pentingnya adalah sosok seperti apakah Senyum ini.

Sebenarnya ini adalah tulisan iseng. Nama Senyum tiba-tiba menyeruak di antara nama kawan-kawan lama yang ingin saya tulis yang pernah jadi bagian dari masa lalu. Entah dari mana asal muasal munculnya, tapi harus saya akui, Senyum memang sosok yang unik dan berbeda.

Senyum di mata saya adalah orang yang sok, songong, vulgar, dan frontal. Kok jelek-jelek semua ya? Ya memang demikian yang ada di pikiran saya. Mungkin semua karakter itu muncul dari kegigihan dan idealismenya dalam memperjuangkan setiap keinginan yang ada di benaknya.

Sepanjang saya mengenalnya, ia adalah orang yang masa bodoh dengan omongan orang. Kalau hendak dimirip-miripkan dengan public figure, Jose Mourinho sepertinya mirip juga sama Senyum. Big mouth? Maybe yes but it doesn’t mean that he is blank. Because I know well, how persistent Senyum is on everything he does. He always gives his best and full effort.

Cuma terkadang, dia melupakan prinsip keseimbangan. Life must be balance and to make it, be proportional! Kadangkala ambisi yang berlebihan itu membutakan hal-hal positif lainnya. Bukan begitu?

Hal kecil itulah yang kadang tidak bisa dilihat Senyum dengan lebih detail dan teliti. Yeah, you can count it as an advice from me, hehehe, peace :)

Bagi yang tidak mengenal Senyum dengan baik, pasti akan sependapat dengan saya tentang sifatnya di paragraf tiga tulisan ini. Tapi saat mengenalinya lebih dalam lewat kesehariannya, bertukar pikiran dengannya, percayalah, Senyum adalah sosok yang terbuka. Ia tidak sekaku yang dibayangkan. Ia punya banyak jokes sebagai bahan tertawaan bersama. Ia juga menghargai siapapun. He also has ­strong spirit to be a better person. And yes, he is the type who will keep the boundary of friendship ever.

Sejauh ini, itu saya yang saya ketahui tentang seorang Senyum. Dan semua yang saya tulis di atas, sudah tentu berasal dari pikiran saya. Semuanya hanyalah pendapat pribadi tentang seorang kawan.

For me, you are now is enough Nyum. Hopefully the boundary of our friendship stay still.

April, 13th 2014. I don’t know whether to publish it or not but I am sure, I will let you read it one day. Yet don’t’ know when.

My comment :

.:. For Upik

Thanks udah nulis ini. Hmhmhm… spechless. How the time flies so fast. Rasanya baru kemarin, kita masih bocah ingusan pake baju seragam SMA, yang setiap harinya saya (dengan parfum melati) sibuk membujuk teman- teman untuk menempatkan kampus ITB sebagai prioritas pertama tempat pendidikan kita selanjutnya. Yang sayangnya… mimpi besar itu tidak pernah kita barengi dengan bersungguh- sugguh belajar. You know guys.. dimana deretan bangku belakang masih jadi tempat favorit kita tiap moving class, cekikikan saat guru mengajar, curcol, sibuk memecahkan teka- teki sendiri,  dan hal- hal keren lainnya. Dengan anomali, kita tetap saja meraih nilai- nilai ulangan dengan bagus. Itu mungkin yang membuat kita terlena. Dan kecurigaan kita benar, kita terlalu pintar untuk ukuran siswa- siswa di Magetan. Heuheu #kibasin rambut .

.:. Teruntuk istriku

Saya tidak tahu, tulisan ini bakalan engkau baca atau ndak. Tapi melihat sifatmu yang sangat kepo (sampai tahu semua akun medsos saya sebelum hubungan kita halal), Ada pesan singkat yang ingin saya sampaikan kepadamu, sayang….

Bahwa benar adanya yang ditulis Upik. Saya lupa, pernah mengatakannya kepadamu atau belum. Bahwa, ” Resiko yang akan kamu terima sebagai istriku adalah, saya memiliki banyak musuh, dan saya juga memiliki banyak sahabat yang bahkan rela mati untuk saya ” .

Mungkin kalimat diatas terlalu berlebihan, tapi memang benar. Mungkin tulisan diatas adalah jawaban, mengapa saya tidak bisa sangat akrab dengan beberapa orang. Tapi disisi lain saya bisa sangat humoris atau bahkan bercanda gila dengan beberapa yang lainnya. Mungkin itu adalah jawaban, mengapa dulu ustadz- ustadz mu sangat mengkhawatirkanmu, apakah saya calon suami yang tepat untukmu. Kekhawatiran mereka, seperti yang Upik bilang, karena ustadz- ustadz mu tidak begitu mengenal baik saya, sehingga dimata beliau- beliau, saya adalah orang yang sok (sombong), songong, vulgar dan frontal. Tapi… seperti yang Upik bilang, saya adalah orang yang masa bodoh dengan omongan orang. Right.! I don’t really care what people think or say about me. I was not born on this earth to please anyone.

Terima kasih telah mempercayakan pilihanmu pada ku. Uhuk, bentar, batuk dulu-. Dan maaf ya, saya kalau bercanda kadang sampai parah, itu artinya kita ada chemistry. Dan kamu salah satunya, selamat ya… Cie cie… Heuheu…

Seperti tak ada antara, karena saya tak mengenal tengah- tengah atau bersikap biasa. Begitulah saya bersahabat atau berhubungan. Sebagian orang menganggap saya sangat baik, ramah luar biasa, mendukung saya, asyik diajak bercanda, betah diajak ngobrol lama untuk bertukar pikiran. Dan sisanya akan disisi yang berseberangan, muak melihat saya, beranggapan saya pendiam setengah mati, menilai saya  tidak tahu santun, antipati, bajingan atau apalah. So, whos care ?

Istriku, kamupun tahu, aku adalah orang biasa. Tidak lulusan pondok, Tidak hafal banyak juz, tidak hafal banyak hadits, Tidak banyak tahu nama- nama pondok A, B, C, dimana itu, terasa asing mendengarnya. Padahal jika saja engkau mau, banyak pemuda yang ingin menikahimu, yang memenuhi kriteria diatas. Tapi… takdir berkata lain. Sekali lagi, Terima kasih telah mempercayakan pilihanmu pada ku. Aku akan belajar menjadi sebaik- baik suami untukmu.

Advertisements

Keras Kepala December 21, 2014

Posted by semesta in Burung bilang itu Cinta, Disekitar Kita.
add a comment

Oleh: sahabat semesta

Aku mencintaimu dan aku ingin memperjuangkanmu dalam tindakan“, kataku saat itu

Aku tidak mau memberi harapan, katamu menolak tawaran.

Lalu, dilain waktu kamu justru resah menanti seseorang yang kamu harap datang. Meski kalian dekat, namun cintanya pun tidak kamu mengerti. Kamu memilih ketidakpastian daripada kepastian. Bukankah selama ini kamu sendiri yang menuntut kepastian?

Ketika kamu mencari kepastian, aku datang
menawarkannya. Lalu, kamu justru ragu memberikan kepercayaan. Aku tidak mengerti seperti apa dirimu. Seperti aku tidak tahu fisik dan rupa mu, karena… kita memang belum pernah bertemu bukan ?…

Dan di lain hari kamu resah mencari. Mencari sesuatu yang jauh, sesuatu yang bahkan tidak kamu kenali. Sesuatu yang katanya telah disiapkan Tuhan bahkan sejak kamu belum lahir. Apa kamu tidak pernah bertanya pada diri sendiri bahwa mungkin ia menciptakan kita sebagai takdir itu?

Aku mungkin harus menghilang dari kehidupanmu, entah sebentar atau selamanya.. agar kamu sadar dan menyadari bahwa ada yang hilang dalam hidupmu. Kesadaran yang membuatmu mengerti bahwa ada orang yang memiliki perasaan
yang bahkan tidak kamu rasakan. Bahwa ada orang yang mencintaimu kala kamu takut dan bertanya- tanya apakah ada orang yang bisa jatuh cinta padamu. Karena aku akui, kamu itu sungguh sungguh keras kepala.

Kita memang belum bertemu. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dikemudian hari. Harapanku dan harapanmu mungkin saja berbeda. Namun, siapa sangka bila ternyata muara kita sama. Aku berdoa seperti itu, entah denganmu

Kunjungan Berbeda October 10, 2014

Posted by semesta in Burung bilang itu Cinta, Sharing w/ Us.
Tags:
7 comments

Oleh: sahabat semesta

Entah bagaimana perasaan sahabatku, mungkin  bercampur baur seperti pasir dan air di lautan terbawa derasnya arus. Bagaimana tidak, seminggu setelah di wisuda bukti telah menyelesaikan tugasnya di almamater, dengan gagahnya mengenakan toga dan berfoto ria bersama keluarga, tepat seminggu setelahnya, setelah momen bahagia itu, ibunda tercinta yang seminggu lalu masih tersenyum bangga melihat anaknya lulus, hari ini sang ibunda meninggalkan semuanya untuk selama- lamanya. Tentu kau tahu? Tidak cuma anaknya yang ditinggalkannya, tapi juga suami, keluarga, kerabat bahkan aku yang bukan siapa- siapanya merasa ditinggalkannya.

Pada senja hari ini, aku duduk di pelataran depan rumah sahabatku itu. Rumah nya sepi, tidak seperti biasanya. Lantainya pun berdebu, tidak seperti biasanya. Aku duduk di kursi tua di atas halaman bertanah menunggu sambil berharap ada seseorang dari dalam rumah membukakan pintu untukku. Walau sebenarnya aku tahu, tidak ada siapa- siapa di dalam. Sembari menunggu, mencoba  mengingat- ingat, baru saja tiga minggu yang lalu (13/9) aku barusan dari sini, setelah setahun lebih tidak silaturahim. Padahal dulu, hampir tiap bulan aku main kemari, walau sekedar untuk menemui sahabatku, atau menemui ayah dari sahabatku yang juga sangat dekat denganku. Ayah dari sahabatku adalah guru SMP ku, namun hubunganku dengannya lebih dari sekedar hubungan antar guru dengan murid. Ketika datang kesinipun siapa yang ada di rumah bisa aku ajak ngobrol tanpa ada rasa canggung sedikitpun, aku menganggap keluarga mereka seperti keluarga sendiri, entah juga dengan ibunya ataupun kakaknya. Dulu sekali ketika masih semester awal kuliah, setiap kepulanganku dari Surabaya ke kampung halaman, selalu aku sempatkan untuk bersilaturahim ke rumah ini. Tapi, terhenti ketika kuliah semester akhir apalagi sudah kerja seperti sekarang. Hal yang sebenarnya tidak patut dijadikan alasan memutus silaturahim dengan keluarga dari sahabatku.

Senja ini, persis tiga minggu setelah kedatanganku kesini pula, sangat terasa berbeda dari kedatangan- kedatanganku sebelumnya. Tiga minggu lalu, aku melihat mata sahabat ku dan kakaknya lembam.Terasa pilu lagi melihat ayahnya yang terlihat kuat menahan untuk tidak mengeluarkan setetes air matapun. Tapi sepandai- pandainya beliau terlihat tegar, tidak pernah mampu menutupi hatinya yang teramat sedih. Usaha untuk terlihat tegar hanya malah membuat pilu saja orang yang melihatnya. Termasuk aku saat itu. Aku hanya menunduk karena tak kuat melihat wajah sang ayah yang seringkali mencoba menahan kesedihan. Semakin berusaha kuat menahan, semakin membuat tak kuat siapa yang melihat. Ya… hari itu adalah hari dimana ketika aku datang kerumah sahabatku, yang kulakukan pertama kali adalah menegakkan shalat tapi tanpa ruku’ dan tanpa sujud. Hari yang berbeda dari biasa- biasanya. Selepasnya kami pergi ke makam, dan melihat sahabatku berdiri di samping sang ayah yang terlihat sangat kebingungan, sesekali sang ayah mencabut- cabut rumput di atas pusara orang lain sambil menyaksikan jasad istri tercintanya dibaringkan.

Senja ini, setelah aku menunggu, sang ayah pun datang. Habis dari tempat fotocopy, kata beliau. Setelah dibukakannya pintu, seperti biasa, tanpa disuruh aku langsung duduk di kursi paling pojok sambil menyerahkan beberapa bingkisan makanan. Detik berdetik dengan beliau, tanpa aku meminta karena tak mau membuka luka, beliau bercerita. Dua hari setelah wisuda anaknya, sahabatku, istrinya mengeluh sakit. Kemudian, dilanjutkan bercerita tentang menit- menit menjelang kepergian istrinya. Setengah jam sebelum wafatnya, istrinya merasa kedinginan dan minta ditambah selimut. Seperempat jam sebelumnya, istri memandang tajam suaminya. Dan memegang erat tangan anaknya, sahabatku. Bundanya memegang jemari- jemari anak erat- erat, seolah hendak pergi tak mau berpisah. Merasakan setiap perasaan yang  mengalir melalui pembuluh darah, melintasi saraf peraba di setiap ujung jari, jembatan perasaan yang mengalir kemudian dipahami tanpa kata- kata, dan kemudian berakhir begitu saja, berakhir begitu cepat. Kira- kira begitu aku menggambarkannya. Dan ketika bercerita , suara beliau parau, menambah nuansa duka senja itu, menandakan bahwa luka itu masih tertanam dalam hati sang ayah. Entah sampai kapan, walau keyakinanku mengatakan, kepedihan itu tak akan pernah sembuh selamanya, tapi aku berharap tidak demikian.

Dua hari sebelum wafatnya, ketika dini hari sekitar pukul 02.30, saat aku masih berada di lapangan menyelesaikan pekerjaan karena ada masalah di bagian mesin (turbine), aku menelepon sang ayah. Tapi tak ada jawaban, padahal setahuku jam- jam segitu beliau sudah terjaga dari tidurnya.  Tak lama, kuterima sms dari beliau,

Alhamdulillah nak, bapak masih diberi berkah dengan datangnya ujian dari Allah. Sekarang istri opname di RSI, doakan segera sembuh ya.

Dan sehari setelah wafatnya beliau, malam hari sekitar pukul 21.00 saat perjalanan menuju kota dimana aku kerja, ku kirim sms pada beliau,

Yang menampung kesedihan adalah hati. Kesedihan bertumpuk- tumpuk menjadi cair. Dan, sayangnya, hati hanya sebesar gelas, sementara kesedihan yang kita rasakan seperti es di kutub utara. Tak kuat hati menampungnya, maka mengalirlah ia menjadi air mata. Oleh sebab itu, tidak perlu kita menahan dan membendungnya. Air mata yang jatuh dari seorang laki- laki tidak selamanya menunjukkan bahwa kita lemah.

Malam itu aku benar- benar khawatir terhadap kesehatan beliau dan segala tentang kekhawatiran bagaimana beliau tidak mau melepas air matanya untuk jatuh.

Dan senja ini, masih dengan sang ayah dan cerita- cerita sendunya, cerita tentang suatu pagi, beberapa hari setelah  wafatnya istri, di suatu pagi, sahabatku mencuci beras untuk dimasak, pekerjaan yang sebelumnya biasa dilakukan bundanya. Melihat tingkah anaknya, sahabatku, kau tahu apa yang dilakukan sang ayah? Masuk ke kamar mandi dan menangis, sesenggukan, sang ayah berusaha sembunyi agar tidak terlihat anaknya, sahabatku, kalau ayah menangis.

Sembunyi atau menyembunyikan perasaan. Itulah yang sebenarnya beliau lakukan. Baru kutahu ketika beliau melanjutkan ceritanya, ketika di hari wafatnya, beliau berusaha keras agar tidak menangis. Karena, di benaknya, jika sampai beliau menangis, maka bagaimana dengan anak- anaknya (sahabatku dan kakaknya). Jika beliau menunjukkan tidak kuat, bagaimana dengan anak- anaknya.  Maka ketika dengan menahan air mata agar tak jatuh, berharap disangka kuat, agar anak- anaknya juga kuat. Seperti itulah…

Adzan pun berkumandang. Pembicaraan kita terhenti, dilanjutkan berbuka puasa.

Sepulang maghrib berjamaah di surau dekat rumah dengan imam sang ayah, aku mengajaknya bicara dengan topik lain disertai candaan khas dari ku. Tak lama kemudian, kami dengar deruan suara motor. Rupanya sahabatku dan kakaknya telah datang, dari Malang, setelah aku bersalaman dan menanyakan sedikit hal dengan sahabatku, saat itulah tugasku sore itu selesai. Akupun berpamitan pulang, sengaja membiarkan mereka bercengkerama. Karena sekali lagi, aku bukanlah siapa- siapanya mereka.  Asal kau tahu, kedatanganku sore itu tak lain karena ingin menemani ayahnya, walau sebentar. Sebentar, jika dibandingkan dengan sepinya hari, sepinya rumah ini, dan sepinya masa tua yang akan beliau jalani mulai hari ini, hingga nanti.

Ada alasan tentunya, mengapa Allah telah memanggil ibu dari sahabatku secepat itu. Karena tugasnya di dunia telah usai. Bagaimanapun, engkau telah melahirkan anak yang akan selalu menjadi sahabat baikku. Telah menjadi istri yang setia bagi suamimu. Terima kasih telah menjadi bagian penting dari orang- orang yang aku sayangi dan hormati, suamimu dan anak- anakmu. Dan dariku, terima kasih selalu telah membukakan pintu, menyediakan minuman dan makanan ringan, dan mengajakku bicara sebelum orang yang aku cari, suamimu atau anakmu keluar, di setiap kunjungan- kunjunganku kesini dulu. Seperti yang aku bilang diawal, rumah ini sudah berbeda. Malam itu sebelum aku meninggalkan rumahmu, kulihat redup lampu teras depan yang berbeda dari biasanya, udara malam di sekitar yang berbeda dari biasanya, dan debu- debu lantai yang berbeda dari biasanya.

Menjelang isya’, akupun beranjak pergi, diiringi gema suara takbir idul adha yang bersahutan, dari masjid- masjid, mengagungkan Nya

.:. Tribute for my best friends Dharma, dan ayahnya

Sudah Lama Menunggu September 16, 2014

Posted by semesta in Burung bilang itu Cinta, Mukjizat Malam [romantisnya rembulan].
15 comments

Oleh: sahabat semesta

Aku sangat menunggu kehadiran malam itu

Lama sekali

Kumohon… cepatlah datang

Aku sangat menunggu kehadiran malam itu

Malam manis semanis rembulan yang hadir di atas sana

Walau.. mungkin keadaannya nanti rembulan tak tampak tertutup mendung hitam

Teap saja manis…

Malam indah dipenuhi bintang – bintang bertebaran

Walau mungkin keadaannya nanti hujan sedang turun dengan lebatnya meredupkan cahayanya

Tetap saja indah…

Kau pasti bertanya

Apa yang membuat malam yang aku tunggu itu manis dan indah jika nantinya mendung lalu hujan ?

Kujawab,” itu adalah malam dimana keesokan harinya aku akan mengucap ikrar suci bersama gadis baik yang telah Tuhan pilihkan untukku”

Asal kau tahu, aku sangat menunggu kehadiran malam itu

Intersection of Math and Art September 11, 2014

Posted by semesta in Universe (ity).
add a comment

Oleh: Dave Whyte

duals

dots-new

Masihkah Kau Sendiri… September 9, 2014

Posted by semesta in Burung bilang itu Cinta, Mukjizat Malam [romantisnya rembulan].
add a comment

Oleh: sahabat semesta

Siapakah Akhmad

Nama yang kau sebut dalam sebuah tulisan mu…

Terangkan kepadaku, siapakah Akhmad

Lelaki yang kau sebut pernah mengucap cinta pada engkau, gadis yang juga aku suka..

Terangkan kepadaku,,,

Aku tak berniat mundur untuk memperjuangkanmu…

Aku tak berniat mundur untuk mendapatkan

Untuk mendapatkan apa yang kelak akan kita sebut “cinta”

Namun…

Aku takut menumbuhkan harap…

Harapan yang akan mengganggu tidur- tidur malamku

Aku berhati- hati dengan harapan

Karena biasanya berakhir menyakitkan…

Aku tak mau seperti mereka

Yang meronta sembari gelisah ketika malam menjelang

Hanya karena harapan yang tak kunjung datang

Aku tak mau seperti mereka

yang meronta sembari gelisah padahal rembulan hadir dengan cantiknya

Aku hanya mau

Terangkan kepadaku siapa Akhmad

Itu saja…

Nasihat Cinta “ Adhi Rohadhi “ November 25, 2013

Posted by semesta in Burung bilang itu Cinta, Universe (ity).
2 comments

Oleh: sahabat semesta

Farmasi ITB 2004. Tinggal sedikit lagi sah menjadi mahasiswa sana, namun tidak direstui oleh ayahnya. Beliaupun kabur ke rumah neneknya, orang terdekat dalam hidupnya, hanya untuk melakukan pembuktian kepada orang tuanya bahwa dia bisa. Setahun kemudian (2005) diterima menjadi mahasiswa di kampus ITS, di jurusan ku. Dari sinilah takdir kami dimulai.

Informasi awal mengenai mas Adhi hanya satu, menikah saat semester 6. Wuihh, gile. Batin ku, ini bukan mahasiswa sembarangan. Perkenalan awal yang singkat karena beliau saat itu sibuk skripsi danaku sebagai mahasiswa baru masih sibuk ospek jurusan. Aku sebenarnya lebih suka manggil kang Adhi. Yap, karena beliau asli kota kembang Bandung. Namun telat tahu.  Kata beliau “udah panggil mas aja ga papa, mas masih ada darah jawa”. Sedikit sekali memori tentang beliau, tapi dalam waktu yang singkat hubungan kami selama di Surabaya, cukup tahu satu hal, beliau baik luar biasa. Pernah beliau meminta untuk dibelikan 3 buah DVD size 6 GB. Buat ? Ternyata, beliau mengcopykan seluruh materi kuliah dari awal hingga akhir. Pesan beliau “ini buat belajar, jangan pernah dikasih ke teman yang lain. Pegang amanah ini” . Ternyata, disitu banyak soal- soal quiz atau soal UTS yang sering keluar. Hasilnya, amazing. Lulus tepat waktu dan cumlaude . Janggal sekali bagi mahasiswa  sepertiku, yang suka tidur jika duduk di barisan depan saat dosen ngajar. Kalau tidak hadir kuliah, artinya sedang tidur di kos. Maklum ngantuk, malamnya cari tambahan penghasilan, jaga lilin buat ngepet. :p . atau lebih suka nggosip sambil cengengesan saat duduk di barisan belakang. Jujur saja, hidupku di Surabaya sangat bahagia kecuali di jam jam saat harus ngedengerin ceramahnya dosen. Semua mendadak berubah seperti saat dementor datang. Kelam. Kata bijak dari @skripsit : “ jika anda punya teman yang suka curhat dan bikin ngantuk, dia berbakat jadi dosen”  Heuheu.

Yang aku ingat , bagaimana mas Adhi mengayuh sepeda tua yang jelek datang ke kos mengantar DVD itu, sibuknya beliau bolak balik ke Jogja ngambil data penelitian buat skripsinya dan terakhir bertemu di Surabaya saat beliau diwisuda. Setelah nya beliau usaha dagang (jualan), ketemu beliau lagi di Bantul, kami sama sama menghadiri kajian agama. *Hmhm.. emang sholeh. Bagi kalian cewek yang lagi baca tulisan ini, hush sana ! tutup page nya. Bukan muhrim tau..” Singkat cerita, takdir mempertemukan kami kembali setelah aku juga diterima di salah satu perusahaan asing, di sebuah kota di Jawa Tengah, tempat beliau bekerja selama 3 tahun belakangan ini.

Yang paling menonjol adalah karakternya yang kuat. Sangat berbeda. Beliau selalu memberi warna tersendiri dilingkungan tempat beliau berada. Hafalannya luar biasa. Suka memberi nasihat, dengan logat Sunda. Beliau adalah idaman para wanita semasa sekolah. Beliau banyak membina para perempuan sholehah untuk dijadikan bini #tsaah. Beliau alumnus SMAN 3 Bandung, SMA number one disana. Istrinya adalah alumni Teknik Fisika ITB. Teman satu angkatan satu SMA. Yang kini memilih menjadi istri sholehah, ibu rumah tangga, menjadi ibu bagi si Luqman kecil, anak laki laki pertama mereka. Si istripun semasa kuliah menjadi favorit lady’s bagi teman temannya. Di awal pernikahan, mas Adhi sering mendapat terror dari lawan lawannya, “ Hei adhi, gak ada hujan gak ada badai, tiba tiba main serobot aja “. … Dan sekarang, hampir sebulan aku dan beliau hidup bersama satu rumah. Kita hidup bahagia selama lama lama lama lama lamanya. —TAMAT —

Heheu, setiap malam beliau memberi nasihat kepadakuyang kini berada di penghujung masa lajang. Beliau begitu berbeda, berkarakter, tegas. Begitu semangatnya beliau memberi nasihat nilai nilai kehidupan yang ceritanya selalu berkiblat pada sahabat sahabat Rasul. Diselingi firman dan sabda, dengan logat Sunda yang menawan. Dari sekian banyak nasihat, ada satu nasihat terkeren :

Setelah engkau menikah, tidak boleh ada lagi perempuan perempuan masa lampau yang engkau cintai yang masih singggah di hatimu. Hormati istrimu yang telah menjadi pilihanmu. Pada akhirnya, engkau hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuk perempuan yang masih engkau cintai. Hanya do’a yang bisa kita berikan  

Terdiam… hmhm.. intinya kita harus bisa move on. Toh, aku bukanlah Professor Snape yang gagal move on setelah ditinggal oleh Lily Potter dan akhirnya memutuskan hidup sendiri sampai mati. Tolol banget dia. Jangan tiru Snape! tirulah James Potter yang suka nyerobot pacar orang lain. Haha #GagalBijak ..

Masih banyak nasihat lain tentang kehidupan berumah tangga dari mas Adhi. Dan hari hari kedepan, aku akan kehilangan beliau. Beliau pindah kerja, keterima di GE (General Electric) perusahaan Amerika yang ada di Bandung. Memenuhi permintaan istrinya agar segera kembali ke kota asal mereka. Agar mas Adhi tiap pagi tidak perlu menelepon istri dan anaknya. Agar tiap pekan mas Adhi tidak mondar- mandir Jepara Bandung. Sediih… aku kembali kehilangan sahabat, kakak, guru dan lebih dari itu semua. Mengapa setiap kami dipertemukan, selalu singkat saja.. Tapi bersyukur bahwa Allah masih mempertemukanku dengan orang- orang baik. Allah memang baik.. muachh… Janjiku pada beliau, “ mas aku ntar pengen main ke rumah mas Adhi, ketemu Luqman juga”. “ Silakan, kata mas Adhi. Yap, aku berjanji untuk ke Bandung lagi, keempat kalinya. Pertama dulu setelah lulus SMA sebulan disana, Kedua,  seminggu saat masa kuliah ada pelatihan Indofood, Ketiga, saat weekend masa Kerja Praktek di ConocoPhillips, perusahaan minyak Amerika di Jakarta.
Misi utama tiap ke Bandung selalu sama, menjenguk sebuah makam. Makam itu terletak di dalam komplek sebuah kampus ternama disana. Di makam itulah, kukubur mimpiku. Empat setengah tahun yang lalu.

Thats All, tulisan ini memang tanpa arah. Maklum,  Insinyur, bukan sastrawan.

Begitulah aku, lebih mengagumi orang orang menurut versiku sendiri, orang orang yang tidak dikenal oleh media. Mereka adalah pahlawan-pahlawan tak dikenal dalam hidupku. Karena mengagumi tokoh-tokoh yang tiap hari muncul di media sudah terlalu mainstream. Mual dan bikin muntah. Ingin sekali rasanya men-snipper mereka biar mati, biar bernasib sama seperti Lincoln dan John F Kennedy.

Kata Mario Teguh “ Jika engkau mencintainya, engkau akan menerima masa lalunya sebagaimana engkau tak akan berbahagia jika engkau tak berdamai dengan masa lalumu”

Paham ga ? Santai, aku juga nggak paham. Kadang Mario emang freak. Mendingan nonton StandUp Comedy daripada nonton Golden Ways  #sikap

Menghitung Zakat yang BENAR October 9, 2013

Posted by semesta in Recommended Book, Sharing w/ Us.
6 comments

Oleh: sahabat semesta

Zakat Profesi

Istilah zakat profesi adalah baru, sebelumnya tidak pernah ada seorang ‘ulamapun yang mengungkapkan dari dahulu hingga saat ini, kecuali Syaikh Yusuf Qordhowy menuliskan masalah ini dalam kitab Zakat-nya, kemudian di taklid (diikuti tanpa mengkaji kembali kepada nash yang syar’i) oleh para pendukungnya, termasuk di Indonesia ini.

Menurut kaidah pencetus zakat profesi bahwa orang yang menerima gaji dan lain-lain dikenakan zakat sebesar 2,5% tanpa menunggu haul (berputar selama setahun) dan tanpa nishab (jumlah minimum yang dikenakan zakat). Mereka mengkiyaskan dengan zakat biji-bijian (pertanian). Zakat biji-bijian dikeluarkan pada saat setelah panen. Disamping mereka mengqiyaskan dengan akal bahwa kenapa hanya petani-petani yang dikeluarkan zakatnya sedangkan para dokter, eksekutif, karyawan yang gajinya hanya dalam beberapa bulan sudah melebihi nisab, tidak diambil zakatnya. (more…)

Aku Masih Ingat dengan Jelas September 12, 2013

Posted by semesta in Hijaunya Hujan.
add a comment

Oleh: sahabat semesta

Aku masih ingat dengan jelas…

Pohon kelapa berumur renta yang selalu akan rubuh setiap hujan, di depan rumah

Tanaman dengan bunganya yang berwarna putih tepat menempel di pagar depan rumah sebelah barat

Bunga kertas dengan warna merah yang selalu merekah dan terlihat mengagumkan dari depan rumah kita milik tetangga

Daun ajaib yang selalu kita petik karena mampu mengeringkan luka akibat tajamnya pisau yang menganga

Kolam kecil disamping sungai yang tenggelam dan tak terlihat ketika air hujan menggenangi jalan

Pohon gayam tepi sungai yang kami sepakati dia misterius

Pohon mangga besar depan rumah yang setia menjadi saksi ambisius

Jalanan tanah yang membentuk pola alami nan indah setiap habis hujan karena pasir terbawa arus ke timur

Kini semua diatas telah hilang dan tak akan pernah kita temui lagi karena pesatnya pembangunan desa…

 

Aku masih ingat dengan jelas…

Setiap pagi ibu merebuskan air hangat untuk kita mandi berangkat ke sekolah

Setiap sore kita mengerjakan pekerjaan rumah sesuai pembagian dan tanggung jawab yang rapi

Kemudian membantu menyiram sawi, bayam, dan apapun yang ada di kebun dengan selang berwarna hijau

Malamnya memasukkan manisan buahan untuk kita jual di sekolah sebagai penghasilan tambahan rumah

Ayah yang selalu mengantar kita ke sekolah tiap pagi tapi kita selalu malu untuk diturunkan depan sekolah

Ayah yang selalu memberi uang saku lebih Rp 500 untuk ditabung tiap hari kamis

Ayah yang selalu memeriksa kuku tangan ku apakah sudah waktunya dipotong setiap Senin pagi

Ibu yang selalu menyuruh segera berangkat TPA di waktu sore tiap hari Kamis dan Minggu

 

Aku masih ingat dengan jelas…

Rumah yang tiap malam selalu dipenuhi tetangga  untuk menonton TV

Rumah yang dipenuhi jagung warna kuning setiap panen

 

Aku masih ingat dengan jelas…

Ruangan sholat kecil kita di ruang tengah dekat pintu di pojokan

Kursi karet berwarna warni di depan rumah dimana warna merah selalu kita perebutkan

Kolam lele besar di bawah tempat menjemur pakaian

Kamar mandi berwarna hijau dipenuhi lumut yang bikin risau

 

Aku masih ingat dengan jelas…

Sepeda pertama kali yang saya miliki, sepeda yang membuat saya bisa main kemanapun

Sepeda kedua, BMX dengan warna hitam elegan

Wadah makan merah muda dengan tutup bergambar kepala gajah yang selalu dibawa ke sekolah tiap ada acara

Tas sekolah dengan penutup peniti karena resletingnya rusak

 

Aku masih ingat dengan jelas…

Bertiga bermain pasir membuat istana di selokan depan rumah selepas hujan

Ayah yang kadang membolehkan dan kadang melarang ketika kita ingin hujan hujanan

 

Hari ini…

Ibu disibukkan dengan dengan penyakit diabetesnya yang tak kunjung sembuh

Ayah disibukkan merawat ibu

Mbak Endah disibukkan merawat si mungil Zahra

Adik disibukkan dengan tugas kuliah sebagai mahasiswa tingkat akhir

Aku disibukkan dengan pekerjaan baru

 

Sungguh…

Aku rindu kalian semua.. keluarga ku tercinta

Dan dengan semua yang telah kita lalui…

Hanya do’a yang mampu mendekatkan kita satu sama lain

Image

Yang Aneh September 11, 2013

Posted by semesta in Disekitar Kita.
add a comment

Oleh: sahabat semesta

Baru saja ayahku menelpon

agar berhati hati di dunia kerja

Ayah bilang:

di negeri saja banyak terjadi kecurangan, perselisihan antar pegawai, apalagi mas di swasta..Hati- hati ya mas, banyak macem type nya orang bekerja itu….

Aku hanya sesenggukan menanggapi pernyataan ayah.. sesenggukan karena rindu yang teramat..

Ayah juga berpesan untuk menjaga shalat jamaah, menjaga sholat sunnah nya

Hmhm , shalat sunnah ? aku seperti ditampar … bahkan akupun sudah lupa kapan terakhir tahajud…

Disisi lain…

Sesaat sebelum ponsel ku bergetar oleh panggilan ayah, ada seorang anak kecil yang tiba tiba muncul lantas  berpamitan kepadaku

berpamitan… seolah olah aku takkan pernah kembali menemuinya…

seolah olah aku akan pergi jauh sekali

ke negeri yang siang dan malamnya tidak seperti siang dan malamnya bumi

Sahabat, kamu pernah mengalami hal aneh seperti yang aku rasakan itu ?

Jika iya, berarti aku tidak sendirian.

Terima kasih telah menjadi teman bagiku…