jump to navigation

Gigi- Gigi Gerigi December 21, 2012

Posted by semesta in Indonesia (L) ?, Sharing w/ Us, Universe (ity).
trackback

Oleh: sahabat semesta

aku adalah sebuah gerigi. Karena aku gerigi, tentunya aku terdiri dari beberapa gigi. Bulan lalu, usiaku sudah 52 tahun. Cukup tua bukan? Iya jika ukuran manusia, tapi aku bukanlah manusia. Ehm,, memang Gerigi bukan manusia kan? 52 bukanlah angka untuk ukuran udzur bagiku. Karena aku berkeyakinan, usia sebuah gerigi adalah nanti hingga kelak hari kiamat datang.

Gigi- gigiku sangat banyak. Tanpanya, aku bukanlah apa. Dan tanpa satu gigipun, aku tidak akan menjadi sebuah gerigi yang baik. Aku sangat bangga dengan gigi- gigi yang ku miliki ini. Yaah, walau kadang harus bersedih. Lho, kenapa?

Ya, karena ketajaman dari gigi- gigiku sudah mulai tidak sama. Bahkan sempat terjadi clash antar gigi.  Salah satu alasan mengapa ketajaman gigi- gigi ku tidak sama, karena bahan material yang digunakan untuk membuat gigi tidak sama. Bahan bahan gigiku berasal dari seluruh penjuru nusantara. Dari Aceh hingga Papua, lengkap bukan !

Gigi- gigiku ada yang sangat tajam, ada yang tajam, ada yang mulai sedikit tumpul.

Gigi yang sangat tajam dibuat oleh mereka yang pernah ke luar negeri. Ke Jepang, ke Thailand, ke Ukraina, ke Bulgaria, ke UK, ke Aussie, ke US, atau ke Singapura. Tentu saja mereka tajam. Tapi sayang, gigi tajam ini sangat sedikit kumiliki

Kemudian, yang kedua, Gigi yang tajam. Gigi yang tajam dibuat oleh mereka yang pernah memenangi kejuaraan nasional, entah kejuaraan karya tulis, robot, mobil, it atau kelas kelas lain. Gigi tajam ini membuka cakrawala dengan memiliki networking teman teman dari seluruh Indonesia. Gigi tajam berteman akrab dengan gajah, dengan makara, dengan songkok majapahit, dengan  padi dan dengan benda benda lain. Walau tidak setajam gigi yang sangat tajam, tapi kedua gigiku ini memiliki kesamaan. Selalu open mind dan membuka diri, peduli dengan  persoalan persoalan negeri ini.

Lanjut ke gigi yang mulai sedikit tumpul. Gigi ini dibuat oleh mereka yang hanya sibuk didalam. Selalu membesar besarkan masalah yang ada. Mereka yang close mind. Mereka yang bangga dengan level lokalnya. Gigi tumpul hanya berteman dengan sesama gigi saja. Dia tidak punya teman diluar sana. Jago kandang, istilahnya begitu. Gigi ini hanya mengisi hari harinya dengan teman  teman nyamannya. Gigi ini lebih sibuk mengurus nilai, tidak berputar melihat kondisi sosial yang memprihatinkan.

Gigi yang sedikit tumpul selalu sibuk membanding bandingkan antara aku sendiri (gerigi), dengan gajah di barat sana, dengan makara, dengan padi dan dengan songkok majapahit. Gigi tumpul mengutuk ketumpulannya sendiri. Gigi ini tidak memiliki cukup confidence ketika bertemu dengan  benda benda lain. Ya, benar ! karena dia tumpul, apa yang bisa dia andalkan untuk melukai benda lain ?

Tapi aku selalu bersyukur ditakdirkan menjadi sebuah gerigi, setidaknya aku tidak memiliki  gigi tumpul, terparah hanyalah gigi yang sedikit tumpul. Karena aku yakin, gigi gigiku ini adalah kumpulan gigi- gigi terbaik yang dimiliki oleh negaraku.

Gigi yang baik tidak pernah mengaangggap gajah, makara, padi, songkok atau benda benda antik lain di negeri ini sebagai competitor. Kita memang bersaing, tapi sekeras apapun persaingan diantara kita, toh visi kita tetaplah sama bukan? Menjadikan Indonesia Berjaya.

Indonesia bisa menjadi negara adidaya (my close friends, Amir Hamzah, Law Faculty, UI)

 

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: