jump to navigation

Menghitung Zakat yang BENAR October 9, 2013

Posted by semesta in Recommended Book, Sharing w/ Us.
trackback

Oleh: sahabat semesta

Zakat Profesi

Istilah zakat profesi adalah baru, sebelumnya tidak pernah ada seorang ‘ulamapun yang mengungkapkan dari dahulu hingga saat ini, kecuali Syaikh Yusuf Qordhowy menuliskan masalah ini dalam kitab Zakat-nya, kemudian di taklid (diikuti tanpa mengkaji kembali kepada nash yang syar’i) oleh para pendukungnya, termasuk di Indonesia ini.

Menurut kaidah pencetus zakat profesi bahwa orang yang menerima gaji dan lain-lain dikenakan zakat sebesar 2,5% tanpa menunggu haul (berputar selama setahun) dan tanpa nishab (jumlah minimum yang dikenakan zakat). Mereka mengkiyaskan dengan zakat biji-bijian (pertanian). Zakat biji-bijian dikeluarkan pada saat setelah panen. Disamping mereka mengqiyaskan dengan akal bahwa kenapa hanya petani-petani yang dikeluarkan zakatnya sedangkan para dokter, eksekutif, karyawan yang gajinya hanya dalam beberapa bulan sudah melebihi nisab, tidak diambil zakatnya.

Simulasi cara perhitungan menurut (cara yang salah) kaidah Zakat profesi seperti di bawah ini :

Cara I (tidak memperhitungkan pengeluaran bulanan) – SALAH

Gaji sebulan == Rp 2.000.000

Gaji setahun == Rp 24.000.000

Jika misalnya 1 gram emas == Rp 100.000

Nishab == Rp 85 gram

Harga nishab == Rp 8.500.000

Zakat Anda == 2,5% x Rp 24.000.000 == Rp 600.000,-

Cara II (memperhitungkan pengeluaran bulanan)  – SALAH

Gaji sebulan == Rp 2.000.000

Gaji setahun == Rp 24.000.000

Pengeluaran bulanan == Rp 1.000.000

Pengeluaran setahun == Rp 12.000.000

Sisa pengeluaran setahun == Rp 24.000.000 – 12.000.000 == Rp 12.000.000

Jika misalnya 1 gram emas == Rp 100.000

Nishab == Rp 85 gram

Harga nishab == Rp 8.500.000

Zakat Anda == 2,5% x Rp 12.000.000 == Rp 300.000,-

Zakat Maal (Harta) yang Syar’i

Sedangkan kaidah umum syar’I sejak dahulu menurut para ‘ulama berdasarkan hadits Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassallam adalah wajibnya zakat uang dan sejenisnya baik yang didapatkan dari warisan, hadiah, kontrakan atau gaji, atau lainnya, harus memenuhi dua kriteria, yaitu :

1. batas minimal nishab

2. harus menjalani haul (putaran satu tahun).

Bila tidak mencapai batas minimal nishab dan tidak menjalani haul maka tidak diwajibkan atasnya zakat berdasarkan dalil berikut :

[a] Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Kamu tidak mempunyai kewajiban zakat sehingga kamu memiliki 20 dinar dan harta itu telah menjalani satu putaran haul” [Shahih Hadits Riwayat Abu Dawud].

20 dinar adalah 85 gram emas, karena satu dinar adalah 4 1/4 gram dan nishab uang dihitung degan nilai nishab emas.

[b] Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Dan tidak ada kewajiban zakat di dalam harta sehingga mengalami putaran haul” [Shahih Riwayat Abu Daud]

[c] Dari Ibnu Umar (ucapan Ibnu Umar atas sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

“Barangsiapa mendapatkan harta maka tidak wajib atasnya zakat sehingga menjalani putaran haul” [Shahih dengan syawahidnya, Riwayat Tirmidzi]

Kemudian penetapan zakat tanpa haul dan nishab hanya ada pada rikaz (harta karun), sedangkan penetapan zakat tanpa haul hanya ada pada tumbuh-tumbuhan (biji-bijian dan buah-buahan) namun ini tetap dengan nishab.

Jadi penetapan zakat profesi (penghasilan) tanpa nishab dan tanpa haul merupakan tindakan yang tidak berlandaskan dalil, qiyas yang shahih dan bertentangan dengan tujuan-tujuan syari’at, juga bertentangan dengan nama zakat itu sendiri yang berarti berkembang.

[Lihat Taudhihul Al Ahkam 3/33-36, Subulusssalam 2/256-259, Bulughul Maram Takhrij Abu Qutaibah Nadhr Muhammad Al-faryabi 1/276/279]

Singkatnya simulasi cara perhitungan menurut kaidah yang syar’i yang benar adalah penghasilan kita digunakan untuk kebutuhan kita, kemudian sisa penghasilan itu kita simpan/miliki yang jumlahnya telah mencapai nishab emas yakni 85 gram emas dan telah berlalu selama satu tahun (haul), berarti harta tersebut terkena zakat dan wajib dikeluarkan zakat sebesar 2,5% dari harta tersebut. Sedangkan jika penghasilan kita kadang tersisa atau kadang pula tidak, maka untuk membersihkan harta Anda adalah dengan berinfaq, yang mana infaq ini tidak mempunyai batasan atau ketentuannya.

Contoh perhitungan yang benar :

Gaji sebulan = Rp 2.000.000

Gaji setahun = Rp 24.000.000

Sisa gaji per tahun  setelah dikurangi pengeluaran selama setahun == Rp 5.000.000

Nishob 85 gram emas = Rp 8.500.000

Maka Anda tidak terkena kewajiban zakat, karena harta di akhir tahun belum mencapai nishab emas 85 gram tersebut.

Atau

Gaji sebulan = Rp 5.000.000

Gaji setahun = Rp 60.000.000

Sisa gaji per tahun  setelah dikurangi pengeluaran selama setahun  = Rp 10.000.000

Nishob 85 gram emas = Rp 8.500.000

Maka Anda terkena kewajiban zakat, karena harta di akhir tahun telah mencapai nishab emas 85 gram tersebut. Kemudian tunggu harta kita yang tersisa sebesar Rp 10.000.000,- tersebut hingga berlalu 1 tahun. Kemudian baru dikeluarkan zakat tersebut sebesar 2.5 % x Rp 10.000.000,- == Rp 250.000,- pada tahun berikutnya.

Nisab 85 gram

Harga update per gram  emas bisa  klik disini

contoh :

Image

Hal ini, ketika sampai di Indonesia, ada sebagian orang yang berlebihan dalam menghitungnya. Misalkan 1 bulan gaji == 1 Juta, maka 12 bulan gaji == 12 Juta. Maka ini telah sampai nisab, lalu dihitung berapa zakat yang harus dikeluarkan.

Hal ini adalah salah karena tidak ada haul. Selain itu, kita tidak mengetahui masa yang akan datang kalau dia dipecat, atau rezekinya berubah. Atau kita balik bertanya, mengapa pertanyaannya hanya petani, apakah jika petani membayar zakat, lantas pekerja profesi tidak bayar zakat ? Padahal mereka tetap diwajibkan membayar zakat, dengan ketentuan dan syarat yang berlaku.

Soal :

Lantas kapan zakatnya bila sisa gaji itu tidak pernah mencapai nishab?

Jawab:

Jawabnya: Tidak wajib zakat pada harta yang tidak cukup nishab. Nasehatnya adalah, bila kita merasa mampu berzakat dengan sisa uang gaji yang sedikit, maka hendaknya disalurkan dengan bentuk shadaqoh (yang sunnah).

Apabila seorang muslim menjadi pegawai atau pekerja yg mendapat gaji bulanan tertentu, tetapi ia tidak mempunyai sumber penghasilan lain. Kemudian dalam keperluan nafkahnya untuk beberapa bulan, kadang menghabiskan gaji bulanannya. Sedangkan pada beberapa bulan lainnya kadang masih tersisa sedikit yg tersimpan untuk keperluan mendadak (tak terduga). Bagaimana cara orang ini membayarkan zakatnya ?

Soal :

Apabila seorang muslim menjadi pegawai atau pekerja yg mendapat gaji bulanan tertentu, tetapi ia tidak mempunyai sumber penghasilan lain. Kemudian dalam keperluan nafkahnya untuk beberapa bulan, kadang menghabiskan gaji bulanannya. Sedangkan pada beberapa bulan lainnya kadang masih tersisa sedikit yg tersimpan untuk keperluan mendadak (tak terduga). Bagaimana cara orang ini membayarkan zakatnya ?

Jawab:

Seorang muslim yg dapat terkumpul padannya sejmlah uang dari gaji bulannanya ataupun dari sumber lain, bisa berzakat selama sudah memenuhi haul, bila uang yg terkumpul padanya mencapai nishab. Baik (jumlah nishab tersebut berasal) dari gaji itu sendiri, ataupun ketika digabungkan dgn uang lain, atau dgn barang dagangan miliknya yg wajib dizakati.

Tetapi apabila ia mengeluarkan zakatnya sebelum uang yg terkumpul padanya memnuhi haul, dgn niat membayarkan zakatnya di muka, maka hal itu merupakan hal yg baik saja. Insya Alah. wallahu ‘alam, semoga bermanfaat.

Dengan ini kami menerangkan bahwa ada perbedaan pendapat diantara ulama dalam hal kewajiban zakat profesi atau penghasilan, namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan tidak ada zakat profesi tersebut, karena tidak memenuhi syarat-syarat wajib zakat, yang dimaksud dengan syarat-syarat wajib zakat adalah :

1. Harta yang wajib dizakati adalah harta yang sudah sampai nishab yaitu harta yang dimiliki itu telah mencapai sekuarang-kurangnya 85 gram murni atau seharganya, maka jika harta itu kurang dari seharga 85 gram emas murni maka tidak wajib dizakati.

2. Harta itu harus sudah dimiliki selama 1 tahun dan selama satu tahun tersebut tidak pernah berkurang dari nishabnya, jika berkurang maka penghitungannya dimulai ketika harta itu mencapai nishabnya, contoh; saudara pada tanggal 1 Januari 2001 mempunyai uang seharga 85 gram emas, namun pada dua bulan kemudian uang itu berkurang sehingga menjadi seharga 60 gram emas, maka penghitungan nishabnya dimulai kembali jika uang yang saudara miliki telah mencapai 85 gram, dan harta yang sebelum perhitungan baru ini tidak wajib zakat.

3. Harta yang dimiliki adalah milik penuh (tidak ada hutang, dll)

4. Harta tersebut kelebihan dari kebutuhan pokok.

Sebagai contoh : pada tanggal 1 januari 2000 anda mempunyai uang lebih dari harga emas 85 gram, maka pada tanggal 1 januai 2001, anda harus mengeluarkan zakatnya 2,5 %, dengan catatan selama setahun tersebut simpanan anda tidak pernah kurang dari nilai 85 gram emas. Namun apabila misalnya anda pada bulan pebruari 2000 mempunyai kebutuhan yang mengharuskan untuk mengambil simpanan anda sehingga simpanan anda menjadi kurang dari nishab, maka hitungan haulnya gugur. Artinya pada bulan januari 2001 anda tidak wajib zakat.

Pendek kata, seseorang baru wajib membayar zakat apabila uang yang mencapai nishab tersebut sudah berumur setahun penuh dan tidak pernah kurang dari nishab. Wallahu ‘alam

# Kesimpulan

Contoh :

Kerja mulai Januari 2013

  • Gaji per bulan 10 juta

Gaji per tahun (10juta x 12 bulan) = 120 juta (terkumpul pada Desember 2013)

  • Pengeluaran per bulan biaya nafkah keluarga 5 juta

Pengeluaran per tahun (5 juta x 12 bula) = 60 juta

Sisa gaji pd Desember 2013 = 60  juta

Harga emas pada Desember 2013 per gram Rp 500.000,-

Ketentuan Nishab dalam Islam = 85 gram emas

Harga 85 gram emas =  500 ribu x 85 gram =  42.5000.000,-

Karena uang kita (60 juta) lebih besar dari harga nisab (42,5 juta) , Berarti nishab telah tercapai dan wajib zakat 2.5% dari 60 juta pada Desember 2014 ( satu tahun setelah nya).

Yakni = 2.5% x 60.000.000,- =  Rp 1.500.000,-

Semoga Bermanfaat

Advertisements

Comments»

1. dee - October 9, 2013

nice info,,

faid - December 26, 2013

jazakillah atas comment dan kunjungan nya

2. cipta - October 2, 2014

Kayak anak sekolah aja…dikasih soal…kerjakan…selesai tidak selesai…dikumpulkan !!! Hehehe

semesta - October 2, 2014

heheu. ya biar jelas aja sih. aku berbakat jadi guru ya keknya.. ?

cipta - October 8, 2014

Kata umi…semua orang adalah guru. Kita bisa belajar dari siapa aja. Pernah lihat filmnya akeelah and the bee, mas? “You can found 50.000 coaches in your neighbourhood, and you can started..with me” iku jarene ibune akeelah.
Btw…mas andhi jago math, kan…next time…if I find any difficulty on math, may I ask you?

semesta - October 10, 2014

of course. math is my another soul.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: