jump to navigation

Kunjungan Berbeda October 10, 2014

Posted by semesta in Burung bilang itu Cinta, Sharing w/ Us.
Tags:
trackback

Oleh: sahabat semesta

Entah bagaimana perasaan sahabatku, mungkin  bercampur baur seperti pasir dan air di lautan terbawa derasnya arus. Bagaimana tidak, seminggu setelah di wisuda bukti telah menyelesaikan tugasnya di almamater, dengan gagahnya mengenakan toga dan berfoto ria bersama keluarga, tepat seminggu setelahnya, setelah momen bahagia itu, ibunda tercinta yang seminggu lalu masih tersenyum bangga melihat anaknya lulus, hari ini sang ibunda meninggalkan semuanya untuk selama- lamanya. Tentu kau tahu? Tidak cuma anaknya yang ditinggalkannya, tapi juga suami, keluarga, kerabat bahkan aku yang bukan siapa- siapanya merasa ditinggalkannya.

Pada senja hari ini, aku duduk di pelataran depan rumah sahabatku itu. Rumah nya sepi, tidak seperti biasanya. Lantainya pun berdebu, tidak seperti biasanya. Aku duduk di kursi tua di atas halaman bertanah menunggu sambil berharap ada seseorang dari dalam rumah membukakan pintu untukku. Walau sebenarnya aku tahu, tidak ada siapa- siapa di dalam. Sembari menunggu, mencoba  mengingat- ingat, baru saja tiga minggu yang lalu (13/9) aku barusan dari sini, setelah setahun lebih tidak silaturahim. Padahal dulu, hampir tiap bulan aku main kemari, walau sekedar untuk menemui sahabatku, atau menemui ayah dari sahabatku yang juga sangat dekat denganku. Ayah dari sahabatku adalah guru SMP ku, namun hubunganku dengannya lebih dari sekedar hubungan antar guru dengan murid. Ketika datang kesinipun siapa yang ada di rumah bisa aku ajak ngobrol tanpa ada rasa canggung sedikitpun, aku menganggap keluarga mereka seperti keluarga sendiri, entah juga dengan ibunya ataupun kakaknya. Dulu sekali ketika masih semester awal kuliah, setiap kepulanganku dari Surabaya ke kampung halaman, selalu aku sempatkan untuk bersilaturahim ke rumah ini. Tapi, terhenti ketika kuliah semester akhir apalagi sudah kerja seperti sekarang. Hal yang sebenarnya tidak patut dijadikan alasan memutus silaturahim dengan keluarga dari sahabatku.

Senja ini, persis tiga minggu setelah kedatanganku kesini pula, sangat terasa berbeda dari kedatangan- kedatanganku sebelumnya. Tiga minggu lalu, aku melihat mata sahabat ku dan kakaknya lembam.Terasa pilu lagi melihat ayahnya yang terlihat kuat menahan untuk tidak mengeluarkan setetes air matapun. Tapi sepandai- pandainya beliau terlihat tegar, tidak pernah mampu menutupi hatinya yang teramat sedih. Usaha untuk terlihat tegar hanya malah membuat pilu saja orang yang melihatnya. Termasuk aku saat itu. Aku hanya menunduk karena tak kuat melihat wajah sang ayah yang seringkali mencoba menahan kesedihan. Semakin berusaha kuat menahan, semakin membuat tak kuat siapa yang melihat. Ya… hari itu adalah hari dimana ketika aku datang kerumah sahabatku, yang kulakukan pertama kali adalah menegakkan shalat tapi tanpa ruku’ dan tanpa sujud. Hari yang berbeda dari biasa- biasanya. Selepasnya kami pergi ke makam, dan melihat sahabatku berdiri di samping sang ayah yang terlihat sangat kebingungan, sesekali sang ayah mencabut- cabut rumput di atas pusara orang lain sambil menyaksikan jasad istri tercintanya dibaringkan.

Senja ini, setelah aku menunggu, sang ayah pun datang. Habis dari tempat fotocopy, kata beliau. Setelah dibukakannya pintu, seperti biasa, tanpa disuruh aku langsung duduk di kursi paling pojok sambil menyerahkan beberapa bingkisan makanan. Detik berdetik dengan beliau, tanpa aku meminta karena tak mau membuka luka, beliau bercerita. Dua hari setelah wisuda anaknya, sahabatku, istrinya mengeluh sakit. Kemudian, dilanjutkan bercerita tentang menit- menit menjelang kepergian istrinya. Setengah jam sebelum wafatnya, istrinya merasa kedinginan dan minta ditambah selimut. Seperempat jam sebelumnya, istri memandang tajam suaminya. Dan memegang erat tangan anaknya, sahabatku. Bundanya memegang jemari- jemari anak erat- erat, seolah hendak pergi tak mau berpisah. Merasakan setiap perasaan yang  mengalir melalui pembuluh darah, melintasi saraf peraba di setiap ujung jari, jembatan perasaan yang mengalir kemudian dipahami tanpa kata- kata, dan kemudian berakhir begitu saja, berakhir begitu cepat. Kira- kira begitu aku menggambarkannya. Dan ketika bercerita , suara beliau parau, menambah nuansa duka senja itu, menandakan bahwa luka itu masih tertanam dalam hati sang ayah. Entah sampai kapan, walau keyakinanku mengatakan, kepedihan itu tak akan pernah sembuh selamanya, tapi aku berharap tidak demikian.

Dua hari sebelum wafatnya, ketika dini hari sekitar pukul 02.30, saat aku masih berada di lapangan menyelesaikan pekerjaan karena ada masalah di bagian mesin (turbine), aku menelepon sang ayah. Tapi tak ada jawaban, padahal setahuku jam- jam segitu beliau sudah terjaga dari tidurnya.  Tak lama, kuterima sms dari beliau,

Alhamdulillah nak, bapak masih diberi berkah dengan datangnya ujian dari Allah. Sekarang istri opname di RSI, doakan segera sembuh ya.

Dan sehari setelah wafatnya beliau, malam hari sekitar pukul 21.00 saat perjalanan menuju kota dimana aku kerja, ku kirim sms pada beliau,

Yang menampung kesedihan adalah hati. Kesedihan bertumpuk- tumpuk menjadi cair. Dan, sayangnya, hati hanya sebesar gelas, sementara kesedihan yang kita rasakan seperti es di kutub utara. Tak kuat hati menampungnya, maka mengalirlah ia menjadi air mata. Oleh sebab itu, tidak perlu kita menahan dan membendungnya. Air mata yang jatuh dari seorang laki- laki tidak selamanya menunjukkan bahwa kita lemah.

Malam itu aku benar- benar khawatir terhadap kesehatan beliau dan segala tentang kekhawatiran bagaimana beliau tidak mau melepas air matanya untuk jatuh.

Dan senja ini, masih dengan sang ayah dan cerita- cerita sendunya, cerita tentang suatu pagi, beberapa hari setelah  wafatnya istri, di suatu pagi, sahabatku mencuci beras untuk dimasak, pekerjaan yang sebelumnya biasa dilakukan bundanya. Melihat tingkah anaknya, sahabatku, kau tahu apa yang dilakukan sang ayah? Masuk ke kamar mandi dan menangis, sesenggukan, sang ayah berusaha sembunyi agar tidak terlihat anaknya, sahabatku, kalau ayah menangis.

Sembunyi atau menyembunyikan perasaan. Itulah yang sebenarnya beliau lakukan. Baru kutahu ketika beliau melanjutkan ceritanya, ketika di hari wafatnya, beliau berusaha keras agar tidak menangis. Karena, di benaknya, jika sampai beliau menangis, maka bagaimana dengan anak- anaknya (sahabatku dan kakaknya). Jika beliau menunjukkan tidak kuat, bagaimana dengan anak- anaknya.  Maka ketika dengan menahan air mata agar tak jatuh, berharap disangka kuat, agar anak- anaknya juga kuat. Seperti itulah…

Adzan pun berkumandang. Pembicaraan kita terhenti, dilanjutkan berbuka puasa.

Sepulang maghrib berjamaah di surau dekat rumah dengan imam sang ayah, aku mengajaknya bicara dengan topik lain disertai candaan khas dari ku. Tak lama kemudian, kami dengar deruan suara motor. Rupanya sahabatku dan kakaknya telah datang, dari Malang, setelah aku bersalaman dan menanyakan sedikit hal dengan sahabatku, saat itulah tugasku sore itu selesai. Akupun berpamitan pulang, sengaja membiarkan mereka bercengkerama. Karena sekali lagi, aku bukanlah siapa- siapanya mereka.  Asal kau tahu, kedatanganku sore itu tak lain karena ingin menemani ayahnya, walau sebentar. Sebentar, jika dibandingkan dengan sepinya hari, sepinya rumah ini, dan sepinya masa tua yang akan beliau jalani mulai hari ini, hingga nanti.

Ada alasan tentunya, mengapa Allah telah memanggil ibu dari sahabatku secepat itu. Karena tugasnya di dunia telah usai. Bagaimanapun, engkau telah melahirkan anak yang akan selalu menjadi sahabat baikku. Telah menjadi istri yang setia bagi suamimu. Terima kasih telah menjadi bagian penting dari orang- orang yang aku sayangi dan hormati, suamimu dan anak- anakmu. Dan dariku, terima kasih selalu telah membukakan pintu, menyediakan minuman dan makanan ringan, dan mengajakku bicara sebelum orang yang aku cari, suamimu atau anakmu keluar, di setiap kunjungan- kunjunganku kesini dulu. Seperti yang aku bilang diawal, rumah ini sudah berbeda. Malam itu sebelum aku meninggalkan rumahmu, kulihat redup lampu teras depan yang berbeda dari biasanya, udara malam di sekitar yang berbeda dari biasanya, dan debu- debu lantai yang berbeda dari biasanya.

Menjelang isya’, akupun beranjak pergi, diiringi gema suara takbir idul adha yang bersahutan, dari masjid- masjid, mengagungkan Nya

.:. Tribute for my best friends Dharma, dan ayahnya

Advertisements

Comments»

1. welda - October 11, 2014

terharu baca nya. ceritanya dalaaaaamm banget.semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan rasa ikhlas dan semangat menjalani hari-hari berikutnya. dan lihat sekitar masih banyak yang lebih kurang beruntung dari kita. just share: tmnku dulu juga ada waktu lagi seremonial wisuda, bapaknya wafat di ruangan graha widya wisuda IPB. dan sang anak tetap melanjutkan seremonial pemindahan tali toga, tetap maju ke panggung, padahal bapak beliau lansung dilarikan kerumah sakit dan semua yang ada didalam ruangan tersebut diselimuti rasa berkabung yang luarbiasa.dan untuk bunda nya teman mu (darma) hanya doa terbaiklah yang bisa kamu berikan untuk orangtuamu saat ini. beliau lebih dulu dipanggil karena allah sangat merindukan bundamu. harusnya kita mampu mengikhlaskan karena allah lah yang memiliki bunda mu seutuhnya, bukan kita. dan buat andi, tulisanmu makin bagus, runtutan narasi sudah semakin terasah, disetiap kata yang tertoreh mampu melukiskan keadaan yang digambarkan. semoga semakin matang dalam menulis. dan tulisan yang bermanfaat akan sangat menginspirasi dan menjadi ladang pahala jika disebarluaskan :)

semesta - October 11, 2014

terima kasih. panjang sekali komennya sampai bingung gimana nanggepin nya.

welda - October 11, 2014

kalo gitu ndak usah ditanggepin

2. anre - October 11, 2014

keren ndi,,,mkash sharing nya..

semesta - October 12, 2014

terima kasih anre atas kunjungan nya. maaf anre siapa ya ? heheu

3. dee ambar - October 22, 2014

Allah lebih sayang beliau berada disisiNya.
pasti ada hikmah dibalik semua kejadian, semoga kami bisa belajar keikhlasan.
dan meneladani apa yang telah diajarkan beliau semasa hidupnya..,,,
ketika ayah mengajarkan untuk tegar menghadapi ujian dariNya. insyaAllah kami putra putrinya kuat menghadapi.

semesta - October 23, 2014

terima kasih mabk ambar.. semoga mbak ambar juga sabar atas kepergian bunda mertua yang tercinta . Yap… Allah lebih sayang beliau berada disisiNya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: